Selasa, 31 Maret 2020

Mudik ditengah Wabah Corona Perlukah ?


Buggy Mayon
Selasa, 31 Maret 2020

        (Arus mudik Natal dan Tahun Baru di tol Cipali. ( Foto: Antara / Dedhez Anggara )

Mudik saat ini sudah menjadi sebuah tradisi bagi masyarakat Indonesia. Merupakan fenomena tahunan yang terjadi saat mendekati hari Raya besar khususnya hari Raya Idul Fitri. Pulang ke kampung halaman dalam kurun waktu tertentu tidak lain untuk bertemu dan berkumpul serta mengabadikan momentum khusus dengan sanak saudara. Namun nampaknya fenomena yang sudah menjadi tradisi, di tahun ini akan berbeda dengan tahun sebelumnya. Hal tersebut tidak lain karena kasus covid-19 yang sedang mewabah di negeri ini.

Pulang ke kampung halaman saat ini tidak lagi harus menunggu mendekati hari Raya Idul Fitri, akan tetapi para pekerja informal yang bekerja di daerah Jabodetabek sudah bergegas atau bahkan telah sampai ke kampung halaman mereka masing-masing. Hal ini terpaksa mereka lakukan karena sulitnya mencari penghasilan di ibukota disaat wabah virus corona melanda serta rasa takut tak mampu memenuhi kebutuhan di kota. Mereka jelas sangat berbeda dengan para pekerja formal seperti ASN atau yang kita kenal dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS), disaat mereka (PNS) dapat tetap berkerja tanpa harus keluar rumah (Work From Home) dan tidak mempengaruhi terhadap penghasilan mereka, akan tetapi hal tersebut nampaknya jauh berbeda dari para pekerja informal. Dimana mereka harus bekerja diluar rumah untuk mendapatkan penghasilan. Oleh karena itu pulang ke kampung halaman dinilai menjadi pilihan yang tepat bagi mereka untuk menyambung kehidupan.
Lantas bagaimana dengan para pekerja informal yang masih mengundi nasib di daerah Jabodetabek, disaat sudah diterapkanya kebijakan tanggap darurat corona ?

Dengan diterapkanya kebijakan tanggap darurat corona mengakibatkan banyak perantau yang menjadi pekerja informal tidak lagi punya penghasilan. Hal ini dikarenakan sejak diterapkanya kebijakan tersebut banyak dari masyarakat yang melakukan aktifitas dirumah seperti sekolah dan kuliah online maupun bekerja tanpa harus keluar rumah bagi para pekerja ASN.

Lalu apakah pemerintah telah memikirkan solusi yang tepat disaat kebijakan yang mereka buat mematikan penghasilan para pekerja informal?

Pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk menghadapi masalah ini. Pemerintah harus berupaya memenuhi kebutuhan warga jika ingin kebijakanya berjalan sesuai rencana yakni dengan mengurangi arus mudik, pemerintah perlu menyiapkan anggaran besar untuk memenuhi kebutuhan warga, Jika tak sanggup memenuhi kebutuhan warga pemerintah tidak punya alasan untuk menahan warga untuk tetap berada di ibukota, bagaimanapun juga mudik merupakan Hak Asasi setiap warga. Namun hal tersebut nampaknya akan segera terealisasikan. Pasalnya, saat ini Presiden Joko Widodo meminta larangan mudik kembali dibahas, beliau menilai dan menimbang kembali dari aspek ekonomi apabila mudik dilarang. Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut panjaitan mengatakan saat ini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sedang melakukan perhitungan untuk bantuan langsung tunai yang akan diberikan kepada masyarakat. Sehingga para pekerja informal dapat merasakan bantuan yang diberikan oleh pemerintah tanpa menghiraukan penghasilan yang mereka dapatkan.

Juru Bicara pemerintah terhadap Penanganan covid-19, pun angkat bicara mengenai Mudik ditahun ini, Achmad Yurianto meminta kepada masyarakat untuk menunda mudik jelang lebaran 2020 di tengah wabah corona. Sebab, jika perjalanan mudik tetap dilakukan akan menimbulkan pergerakan masyarakat yang lebih luas dan dikhawatirkan covid-19 ini akan berpotensi menyebar lebih luas dari satu kota ke kota yang lain.

Jadi masih perlukah mudik ditengah wabah corona ?

Mudik ditengah Wabah Corona Perlukah ?

Buggy Mayon Selasa, 31 Maret 2020         (Arus mudik Natal dan Tahun Baru di tol Cipali. ( Foto: Antara / Dedhez Anggara ) M...